Tim Psikososial MDMC Lakukan Pelatihan Mitigasi Bencana


arti mitigasi bencana

Suryagemilangnews.com – Donggala. Tim Psikososial MDMC Pos Layanan (Posyan) Wani II melaksanakan Pelatihan Mitigasi Bencana pada hari Rabu, 7 November 2018 di Kantor Balai Desa Wani II, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Pelatihan dibuka oleh Mohammad Reza Dwisyaputra. S.E., dan diikuti oleh Jamaah Tangguh Bencana yang terdiri dari pemuda dan pemudi di Desa Wani II.

Mohammad Reza Dwisyaputra. S.E., selaku sekretaris Desa Wani II menjelaskan bahwa Pelatihan Mitigasi Bencana sangat penting untuk dipelajari dan dipahami oleh seluruh masyarakat. Ia mengucapkan terimakasih banyak kepada tim psikososial dibawah naungan MDMC yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu masyarakat Desa Wani II semaksimal mungkin. “Masyarakat harus segera bangkit dan berusaha memperbaiki diri untuk masa depan, salah satunya dengan mengkuti kegiatan Pelatihan Mitigasi Bencana,” jelasnya.

Jeri Perdana selaku koordinator psikososial Posyan  Wani II menjelaskan bahwa Jamaah Tangguh Bencana sudah terbentuk dan pemberian pelatihan mitigasi bencana sudah harus diberikan. Latar belakang diberikannya pelatihan adalah mengingat wilayah Wani II merupakan salah satu wilayah yang dekat dengan pelabuhan dan menjadi salah satu wilayah yang terdampak gempa serta tsunami cukup parah.

Tujuan diberikannya pelatihan mitigasi bencana adalah menjadikan masyarakat semakin tanggap dalam menghadapi bencana yang terjadi sewaktu-waktu. “Jangan panik jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak diinginkan atau bencana, selalu ingat Allah selaku Maha Mengatur segalanya,” jelas mahasiswa Fakultas Psikologi tersebut.

Hendra Purwanto selaku pemateri Pelatihan Mitigasi Bencana menjelaskan bahwa wilayah Indonesia berada pada wilayah ring of fire sehingga Indonesia menjadi salah satu wilayah yang rentan akan bencana. Sulawesi adalah salah satu wilayah yang berada pada lempeng pasifik dan rentan akan bencana alam.

Ada beberapa hal penting yang perlu dipahami oleh Jamaah Tangguh Bencana. Pertama, memahami bahaya disekitar tempat tinggal. Kedua, memahami sistem peringatan setempat seperti rute evakuasi dan titik kumpul pengungsian. Ketiga, meningkatkan keterampilan mengevakuasi situasi secara cepat dan inisiatif cepat untuk melindungi diri. “Semoga Jamaah Tangguh Bencana selalu aktif dalam mempelajari begaimana membentuk mesyarakat tangguh dalam menghadapi bencana,” jelas relawan deligasi dari Laboratorium Psikologi Terapan Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Renaldi Sandy Megawe selaku salah satu peserta Pelatihan Mitigasi Bencana menjelaskan bahwa ia sangat bersyukur dapat mengikuti pelatihan. Selain menjadi bekal diri sendiri dalam menghadapi bencana, ia juga memiliki gambaran bagaimana harus mengkoordinir keluarga dan masyarakat jika bencana terjadi sewaktu-waktu.

Renaldi mengatakan bahwa dirinya sangat antusias untuk bergabung dalam Jamaah Tangguh Bencana dan berusaha semaksimal mungkin untuk aktif belajar banyak hal terkait kebencanaan. “Saya dan teman-teman akan berusaha menjaga keberadaan Jamaah Tangguh Bencana dan semoga kedepannya ada beberapa program yang dapat kami lakukan,” jelas salah satu relawan lokal asal Desa Wani II tersebut. (Nata Hendriati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *