Majelis Diktilitbang Beri Pesan Menyentuh, Guru Besar Harus Miliki Karakter Ulul Albab

Prof. Dr. Uky Yudatama, S.Si., M.Kom., M.M., M.Psi., sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Ilmu Tata Kelola dan Infrastruktur Teknologi Informasi (TI), Selasa (19/5/2026).

MAGELANG – Pengukuhan Prof. Dr. Uky Yudatama, S.Si., M.Kom., M.M., M.Psi., sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Ilmu Tata Kelola dan Infrastruktur Teknologi Informasi (TI) Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) diwarnai dengan pesan-pesan yang menyentuh, Selasa (19/5/2026). Pada momen itu, Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menekankan pentingnya karakter ulul albab melekat pada setiap cendekiawan yang berjuang di Muhammadiyah.

Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah Prof H Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D, menyebutkan, cendekiawan tidak hanya dituntut memiliki akal dan kecerdasan. Lebih dari itu, karakter utamanya adalah bagaimana mengamalkan nilai-nilai spiritualnya, salah satunya melalui sifat rendah hati.

Prof. Ahmad mengutip Al-Qur’an surat Yusuf ayat 76, bahwa di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih mengetahui, yakni Allah SWT. Dijelaskannya, ilmu yang dimiliki manusia dibatasi oleh ruang, waktu, serta kapasitas akal.

“Bahkan ilmu seorang guru besar sekalipun masih berada dalam tingkatan yang terbatas. Di atas pengetahuan manusia terdapat pengetahuan profetik, dan puncaknya adalah Al-‘Alim, yakni Allah SWT,” tuturnya, di Auditorium Kampus I Unimma.

Karenanya, guru besar tidak boleh berpuas diri dengan keilmuan yang dimiliki sekarang. Namun memiliki semangat untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan membangun karakter ulul albab.

“Guru besar harus memiliki kerendahan hati intelektual, agar terhindar dari otoritarianisme akademik dan sifat ujub. Selain itu, harus ada kesadaran epistemik bahwa capaian akademik bersifat sementara dan bukan kebenaran absolut. Seluruh rantai pengetahuan pada akhirnya bersumber dan bermuara kepada Allah SWT,” tandasnya.

Ia menambahkan, semakin besar pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin luas pula wilayah ketidaktahuan yang disadari. Karena itu, guru besar perlu menolak stagnasi, membuka ruang dialog yang lebih luas, serta mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan (from knowledge to wisdom).

Menutup sambutannya, Prof. Ahmad mengingatkan bahwa setelah mencapai jabatan guru besar, seseorang perlu menyadari bahwa keilmuan harus dirajut melalui kerja sama multidisiplin. Menurutnya, kemajuan sejati tidak lahir dari isolasi, melainkan dari kemampuan guru besar menjadi penghubung lintas disiplin ilmu.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti persentase jumlah guru besar dibandingkan jumlah dosen di Indonesia yang relatif masih rendah dengan negara lain. Kondisi tersebut dipandang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), untuk terus meningkatkan kualitas akademik.

Rektor Unimma Dr. Lilik Andriyani, SE., MSI., menyampaikan bahwa Prof. Dr. Uky Yudatama merupakan guru besar ke-6 di Unimma. Penambahan jumlah guru besar ini memperkuat posisi Unimma sebagai pusat keilmuan.

“Semakin banyak jumlah profesor dari bidang keilmuan, maka semakin banyak hasil riset yang terpublikasi dalam bentuk publikasi ilmiah, buku, atau hasil karya lainnya yang memberikan dampak dan kebermanfaatan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Pihaknya optimistis jumlah guru besar di Unimma akan terus bertambah, mengingat saat ini sudah memiliki 28 rektor kepala. “Ini potensi untuk bisa meraih ke guru besar dalam waktu dekat ini, dan beberapa kandidat sudah kita motivasi dan kita dorong untuk mengajukan guru besar,” pungkasnya. (moa)

Exit mobile version