Islam Berkemajuan dalam Spirit Kosmopolitanisme Society 5.0 Muhammadiyah

Era society 5.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat membawa manusia memasuki era baru kehidupan global. Di situasi ini teknologi tidak hanya berperan sebagai pendukung langkah kerja manusia, namun menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Di era yang serba pesat ini, cara pandang terhadap agama juga mengalami transisi. Islam yang dahulu sering dipahami hanya sebatas urusan ibadah mahdhah dan hubungan spiritual antara manusia dengan Allah SWT, kini dituntut hadir lebih luas dalam menjawab tantangan zaman. Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan ajaran yang mendorong kemajuan peradaban, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pembangunan kehidupan yang berkeadaban dan humanis. Dari sinilah lahir gagasan Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan sebagai bentuk aktualisasi Islam rahmatan lil ‘alamin di era modern.

Gagasan Islam Berkemajuan dirilis dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta sebagai arah gerakan dakwah Muhammadiyah di era modern. Melalui konsep ini, Muhammadiyah menegaskan bahwa Islam harus hadir sebagai kekuatan yang mampu mendorong perubahan positif di berbagai bidang kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hingga aksi kemanusiaan global. Islam tidak cukup dipahami hanya melalui teks dan teori, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Dalam pemaparannya ketika mengisi materi TM 3 Jawa Tengah, Bapak Hammam M.Pd., Ph.D menjelaskan bahwa gerakan Islam Berkemajuan memiliki fokus utama pada tiga aspek penting, yaitu feeding, healing, dan schooling. Feeding menjadi bentuk kepedulian Muhammadiyah dalam membantu persoalan kesejahteraan sosial dan kebutuhan pangan masyarakat. Healing diwujudkan melalui pelayanan kesehatan yang inklusif, berkeadilan, dan menjunjung nilai kemanusiaan. Adapun schooling menjadi komitmen Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dan amal usaha yang terus berkembang. Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah bergerak secara nyata dalam membangun kehidupan umat.

Konsep kosmopolitanisme dalam Islam Berkemajuan juga mengajarkan pentingnya hidup berdampingan dan menghormati sesama manusia. Seluruh manusia pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT karena bumi ini merupakan milik-Nya. Oleh sebab itu, manusia diajarkan untuk membangun hubungan sosial yang harmonis tanpa membedakan suku, bangsa, maupun agama. Nilai ini memiliki landasan teologis dalam QS. Al-An’am ayat 12 yang menegaskan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya.
Semangat kosmopolitanisme Muhammadiyah tidak hanya terlihat di Indonesia, tetapi juga berkembang melalui PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di berbagai negara. Kehadiran PCIM bukan hanya untuk menjaga identitas warga Muhammadiyah di luar negeri, tetapi juga menghadirkan kontribusi sosial secara langsung bagi masyarakat sekitar. Salah satu contohnya ialah kegiatan pembagian sup saat musim dingin oleh PCIM di India sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Bahkan dalam berbagai kegiatan sosial, Muhammadiyah juga sering membangun kerja sama lintas agama demi menciptakan kemaslahatan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah membawa semangat inklusif, humanis, dan perdamaian universal.

Dengan demikian, Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan menjadi gambaran bahwa Islam adalah agama yang mampu berjalan selaras dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai wahyu. Muhammadiyah melalui gerakan Islam Berkemajuan terus menghadirkan dakwah yang mencerahkan, memajukan, dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia. Di tengah tantangan global saat ini, semangat tersebut menjadi penting untuk terus dikembangkan agar Islam benar-benar tampil sebagai kekuatan peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Penulis: Alifiana Najwa Afifah
Kader IPM Kab. Magelang

Exit mobile version