JAKARTA – Upaya diversifikasi usaha tani yang dikembangkan petani bersama Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mendapat perhatian dan respons positif dari pemerintah pusat. Pengalaman petani dalam mengembangkan komoditas alternatif dinilai dapat menjadi model kebijakan berbasis bukti untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.
Hal tersebut mengemuka dalam audiensi MTCC UNIMMA bersama Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Koordinator Bidang Pangan, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, MTCC UNIMMA menyampaikan hasil riset, pengalaman lapangan, serta berbagai praktik baik pendampingan petani yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Pendekatan berbasis data dan bukti ilmiah menjadi dasar dalam mendorong kebijakan yang tidak hanya memperhatikan aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi petani melalui pengembangan komoditas non-tembakau.
Ketua Umum Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI), Istanto, memaparkan pengalaman petani di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, yang berhasil melakukan diversifikasi tanaman setelah dua kali mengalami gagal panen tembakau akibat perubahan iklim. Dengan pendampingan MTCC UNIMMA, petani mulai mengembangkan ubi jalar, tanaman hortikultura, kopi, serta berbagai komoditas pangan lainnya yang mampu memberikan pendapatan lebih stabil.
“Diversifikasi tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membuka peluang lahirnya industri pengolahan hasil pertanian di tingkat lokal,” ungkap Istanto.
Sementara itu, perwakilan petani dari Kabupaten Temanggung, Ajib, menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur dasar. Menurutnya, kendala utama petani saat ini bukan lagi soal kemauan untuk beralih dari tembakau, melainkan keterbatasan akses air yang menghambat pengembangan komoditas alternatif.
Menanggapi paparan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M., menyampaikan bahwa praktik baik diversifikasi tanaman yang dilakukan petani bersama MTCC UNIMMA perlu didokumentasikan dan direplikasi di berbagai daerah sentra tembakau di Indonesia.
Kemenko PMK juga membuka peluang penyelenggaraan forum dialog yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, organisasi petani, dan pemangku kepentingan lainnya dengan UNIMMA sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan.
Di sisi lain, Kementerian Koordinator Bidang Pangan mendorong MTCC UNIMMA dan FPMI segera menyusun proposal kebutuhan pembangunan sarana pendukung, seperti sumur bor dan embung, sebagai dasar koordinasi lintas kementerian untuk mendukung percepatan diversifikasi usaha tani.
Dukungan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha. Menurutnya, pengalaman petani yang berhasil melakukan alih tanam memberikan perspektif baru dalam penyusunan kebijakan nasional. Kementerian Kesehatan juga akan mengkaji peluang pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), khususnya sektor kesehatan, untuk mendukung pembangunan sarana air bagi petani sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah turut mendorong sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan kelompok tani dalam menyusun proposal pembangunan infrastruktur irigasi dan sumber air sebagai langkah konkret memperkuat transformasi pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Peneliti MTCC UNIMMA, Nugroho Agung Prabowo, menilai hasil audiensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat.
“Pengalaman petani membuktikan bahwa peningkatan kesejahteraan dapat dicapai melalui pendampingan, inovasi, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor. MTCC UNIMMA akan terus menghadirkan riset dan praktik baik sebagai referensi ilmiah dalam mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan berbasis bukti dan kolaborasi multipihak, model diversifikasi yang dikembangkan petani dampingan MTCC UNIMMA diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah sentra tembakau lainnya dalam membangun sistem pertanian yang tangguh, menyejahterakan petani, dan lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
